PENGEMBANGAN SOFT SKILL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

PENGEMBANGAN SOFT SKILL DALAM PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
Oleh: Sumaryanta, Staf PPPPTK Matematika
Abstrak
Pendidikan memiliki peran sentral dalam kehidupan dan peradapan manusia. Pendidikan
adalah jembatan yang menghubungkan masa kini dan masa datang. Adanya peran
demikian, isi dan proses pendidikan perlu selalu dimutakhirkan sesuai kemajuan ilmu
dan kebutuhan masyarakat. Dunia sekarang bergerak cepat dengan laju yang semakin
kencang. Manusia sedang berada di tengah revolusi yang mengubah gaya dan cara
hidup, berkomunikasi, berpikir, dan juga mencapai kesejahteraan. Oleh karena itu, selalu
diperlukan pembaharuan penyelenggaraan pendidikan untuk mengimbangi pesatnya laju
perubahan tersebut. Salah satu trend yang menuntut antisipasi pendidikan adalah adanya
pergeseran profil kompetensi yang dibutuhkan di masa yang akan datang. Pengetahuan
bukan lagi merupakan satu-satunya kebutuhan untuk menjadikan seseorang sukses. Soft
skill, yang meliputi kemampuan personal dan interpersonal seseorang, menjadi
kebutuhan dasar untuk dikuasai agar seseorang mampu eksis dalam kehidupan.
Kata kunci: pengembangan, soft skill, matematika
A. Pendahuluan
Kurikulum 2013 dikembangkan dengan landasan filosofis yang
memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi
manusia Indonesia berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan
nasional. Kurikulum 2013 berorientasikan untuk mewujudkan keseimbangan
antara sikap, keterampilan dan pengetahuan untuk membangun soft skills dan
hard skills. Hal inilah yang selama ini kurang diperhatikan dalam sistem dan
praktek pendidikan di Indonesia karena lebih diutamakannya pengembangan
aspek pengetahuan..
Menurut survey yang diterbitkan oleh National Assosiation of Colleges
And Employers (NACE) pada tahun 2002 di Amerika Serikat, dari hasil jejak
pandapat pada 457 pengusaha, diperoleh kesimpulan bahwa IP hanyalah nomor
17 dari 20 kualitas yang dianggap penting dari seorang lulusan dunia
pendidikan. Kualitas yang berada di peringkat atas justru hal-hal yang kadang
dianggap kurang penting, misalnya kemampuan berkomunikasi, integritas,
kemampuan bekerja sama, etos keja, berinisiatif, mampu beradaptasi,
kemampuan analitik, kemampuan beroganisasi, percaya diri, dan kemampuan
memimpin. Temuan ini menunjukkan perlunya koreksi mendasar dalam
orientasi pendidikan kita yang selama ini lebih mendewakan pengembangan
kognitif.
Permasalahan di atas menuntut solusi hati-hati dan kreatif. Tuntutan
bahwa pendidikan harus mendorong tumbuh kembang anak secara utuh tidak
harus disikapi latah dengan me”mata-pelajaran”kan semua aspek kehidupan.
Mata pelajaran pada kurikulum saat ini telah dirasakan “sangat banyak”,
sehingga perlu cara-cara baru menjawab kebutuhan tumbuh kembang anak
secara utuh tanpa menambah beban belajar anak. Mata pelajaran yang ada bisa
lebih diberdayakan agar memberi kontribusi lebih besar, tidak hanya pada
domain masing-masing bidang studi, tetapi lebih terbuka difungsikan
mendukung tumbuh kembang anak.
Mata pelajaran matematika, sebagai mata pelajaran pokok di sekolah,
harus mampu menjawab tantangan di atas. Pembelajaran matematika harus lebih
diberdayakan untuk mendukung pengembangan pribadi anak. Pembelajaran
matematika seharusnya tidak diorientasikan sekedar materi matematika secara
an sich, tetapi perlu dirubah lebih terbuka menyentuh dimensi lebih luas
sehingga mampu berkontribusi lebih besar bagi pengembangan pribadi,
termasuk berkembanya soft skill peserta didik.
B. Kajian Teori
Menurut Bancino and Zevalkink, soft-skills adalah suatu istilah sosiologis yang
menunjuk pada sekelompok sifat kepribadian, keselarasan sosial, kemampuan
berbahasa, kebiasaan personal, keramahtamahan, dan optimisme seseorang yang
menempatkan orang pada berbagai tingkatan. Soft-skills melengkapi hard-skills,
yang diperlukan secara teknis dalam kehidupan. Soft-skills adalah sifat personal
yang penting untuk meningkatkan interaksi individual, prestasi kerja, dan
prospek karir. Berbeda dengan hard-skills yang menunjukkan kecenderungan
orang melakukan tugas atau aktivitas tertentu, soft-skills dapat digunakan secara
luas tidak terbatas pada tugas atau aktivitas tertentu saja.
Terdapal beragam definisi yang digunakan untuk menjelaskan maksud
yang berkaitan dengan "soft kill". Kebanyakan definisi tersebut berkaitan erat
dengan gambaran personal, sikap, tabiat, dan juga tingkah laku; cara
berkomunikasi, penyelesaian masalah dan kemahiran membuat keputusan serta
proses mengurus organisasi.
Menurut Bonnie Me EIroy dalam artikel yang berjudul "Why Soft Skills"
menyatakan bahwa “Soft skills refer to the cluster of personality traits, social
graces, facility with language, personal habits, friendliness, and optimism that
mark people to varying degrees. Soft skills complement hard skills, which are
the technical requiremen of education”. Soft skills adalah sikap dasar perilaku.
Yakni keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (termasuk
dengan dirinya sendiri). Atribut soft skills, meliputi nilai motivasi, perilaku,
kebiasaan, karakter dan sikap. Atribut ini dimiliki oleh setiap orang dengan
kadar berbeda-beda, dipengaruhii oleh kbiasaan bcepikir, berkata, bertindak dan
bersikap. (Illah Sailah, 2007)
Patrick S. O’Brien dalam bukunya “Making College Count”
berpendapat bahwa soft-skills dapat dikategorikan dalam 7 area yang disebut
winning characteristics, yaitu kemampuan berkomunikasi (communication
skills), kemampuan berorganisasi (organizational skills), kepemimpinan
(leadership), usaha (effort), logika (logic), kemampuan bekerjasama (group
skills), dan etika (ethics). Sumber lain mengatakan bahwa soft-skills juga dapat
dibedakan menjadi sifat personal dan kemampuan interpersonal. Sifat personal
meliputi: optimisme, responsibilitas, sense of humor, integritas, manajemen
waktu, dan motivasi. Sedangkan kemampuan interpersonal meliputi: empati,
kepemimpinan, komunikasi, kelakuan baik, keramahan, kemampuan untuk
mengajar
Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa soft-skills
adalah kemampuan personal dan interpersonal seseorang yang meliputi:
optimisme, responsibilitas, sense of humor, integritas, manajemen waktu,
motivasi, berempati, kepemimpinan, berkomunikasi, kelakuan baik, keramahan,
dan kemampuan untuk mengajar. Kemampuan-kemampuan ini melengkapi
kemampuan akademik yang akan menentukan kesuksesan seseorang dalam
kehidupannya.
Di dalam dunia pendidikan, '"soft skills" merupakan salah satu aspek
ketrampilan yang perlu diberi perhatian lebih dan sering dikaji dalam berbagaii
seminar pendidikan. Soft skills dianggap sebagai aspek ketrampilan yang
menentukan sukses tidaknya proses pcndidikan. Kajian yang dibuat oleh Yahya
Buntat (2004) dari Malaysia telah merumuskan soft skills tersebut mengandung
tiga aspek yang harus diperhatikan antara lain :
a) Aspek Akademik antara lain :
• Kelrampilan menyelesaikan masalah
• Ketrampilan berfikir secara kritis
• Ketrampilan berkomunikasi
• Ketrampikin berpikir matematik, dll
b) Aspek pribadi untara lain :
• Ketrampilan bertanggungjawab
• Ketrampilan bersikap positif
• Ketrampilan beradaptasi, dll
c) Aspek Sosini antara lain :
• Ketrampilan bekerja sama dengan orang lain
• Ketrampilan melibatkan diri dalam sesuatu proyek, dll
C. Pembahasan
1. Pengembangan soft skill, amanat pendidikan yang terkesampingkan
Pada paparan di atas telah dijelaskan bahwa pembelajaran matematika
seyogyanya tidak sekedar diarahkan pada pengembangan keterampilan teknis
matematis semata, tetapi juga perlu menyentuh dimensi pengembangan
pribadi anak. Berbagai keunggulan yang melekat pada mata pelajaran
matematika perlu dioptimalkan demi manfaat yang sebesar-besarnya. Dalam
konteks inilah pengembangan soft skill melalui pembelajaran matematika
seharusnya memperoleh perhatian yang sebanding dengan target capaian
kompetensi yang ain. Pengembangan soft skill seharusnya mendapatkan
prioritas selama pembelajaran matematika berlangsung.
Sayangnya, hampir pada setiap pembelajaran matematika, indikator
keberhasilan pelajar lebih ditekankan pada kemampuan anak meraih skor
tinggi. Hal inilah yang menyebabkan pembelajaran matematika sering tidak
memberikan hasil yang optimal, termasuk terkesampingkannya aspek
pengembangan soft skill siswa. Skor matematika anak sering digunakan
sebagai rujukan utama mempersepsikan tingkat keberhasilan belajar
matematika. Orang tua sangat sedih jika putra-putrinya memperoleh skor
rendah pada tugas ujian matematika. Kekecewaan, kekesslan, dan kemarahan
muncul sebagai reaksi kegagalan anak memperoleh skor tinggi pada mata
pelajaran matematika. Berbagai upaya dipaksakan orang tua kepada si-anak
demi meningkatkan pencapaian skor matematika anaknya. Anakpun, dengan
segala ketidakberdayaannya, pasrah dan mengikuti kehendak rang tuanya
tersebut. Tidak hanya di lingkungan rumah, di sekolahpun fenomena yang
sering terjadi. Sekolah (baca : guru) cenderung mempersepsikan tingkat
keberhasilan pembelajaran matematika dengan didasarkan pada angka yang
diperoleh anak. Dalam angka meningkatkan prestasi belajar matematika
siswa, sekolah menempuh berbagai upaya yang diarahkan untuk semakin me-
''ninggi"-kan nilai anak pada mata pelajaran matematika.
Saat ini malematika dipergunakan sebagai salah satu syarat kelulusan
dengan skor minimal yang telah ditetapkan. Hal ini seakan telah semakin
menjebak pemahaman publik siswa skor matematika merupakan indikator
utama keberhasilan pembelajaran matematika. Orang tua maupun sekolah
(guru) semakin mengencangkan ikat pinggang untuk mendorong anak (siswa)
memperoleh nilai yang tinggi pada mata pelajaran matematika. "Keharusan
bisa menyelesaikan soal" menjadi momok yang semakin menakutkan bagi sianak.
Dengan segala persepsi yang dimilikinya, orang tua berlomba-lomba
menambah jam belajar matematika anaknya, bahkan menyertakan anak ke
bimbingan belajar atau privat di rumah merupakan pilihan yang banyak
ditempuh orang tua. Di sekolah, pembelajaran "model drillal" menjadi
"keharusan" yang harus dilakukan, terutama bagi para siswa di tingkat akhir.
Semua diorientasikan demi anak "tidak gagal" memperoleh nilai yang
dipersyaratkan.
Tuntutan darr tekanan terhadap perolehan nilai matematika yang tinggi
sering membuat pembelajaran matematika di kelas berlangsung kaku, penuh
ketegangan dan tanpa kegembiraan. Guru seakan harus mengajak siswa
berlari mengejar target dan menyelesaikan proyek perolehan nilai sehingga
tidak memiliki kesempatan berimprovisasi dalam pembelajaran. Siswa juga
seakan tidak memiliki kesempatan menikmati kegiatan belajarnya. Yang ada
hanyalah kontrol, tekanan, dan target sehingga mereka kehilangan kebebasan
menjalani proses belajarnya.
Fenomena di atas tentu patut menjadi keprihatinan bersama. Banyak
kemanfaatan sering terkesampingkan dan belajar matematika manakala
seluruh energi yang ada hanya peruntukkan memperoleh skor tinggi.
Mempelajari matematika tidak hanya sekedar untuk bisa mengerjakan soalsoal
matematika. Mempelajari matematika juga tidak sekedar nenguasai
materi matematika. Mampu mengerjakan soal matematika hanyalah salah satu
dikator penguasaan materi matematika, sementara materi yang dipelajari
hanyalah sekedar sarana terhadap penguasaan kompetensi yang lebih luas.
Oleh karena itu, tidaklah tepat kiranya jika tolok ukur keberhasilan
pembelajaran matematika hanya didasarkan pada kemampuan anak
memperoleh skor tinggi. Harapan bahwa pembelajaran matematika mampu
memberikan manfaat bagi tumbuh dan berkembangnya anak secara utuh,
termasuk pengembangan soft skill, menjadi sulit tercapai. Melalui belajar
matematika, anak berpeluang dan berhak mengembangkan berbagai potensi
yang dimiliki bukan hanya sekedar bisa mengerjakan soal.
2. Soft skill, sasaran sekaligus pendukung belajar
Dalam Kurikulum 2004, guru memiliki keleluasaan yang lebih banyak
dalam mengelola pembelajarannya dibandingkan pada kurikulum
sebelumnya. Pada kurikulum sebelumnya, perlu seakan hanya sekedar
pelaksana kurikulum tanpa memiliki kemerdekaan berimprovisasi. Hampir
semuanya telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Sedangkan pada
kurikulum, baru ini pusat hanya mengatur ketentuan/ kompetensi pokok,
sedangkan penjabaran dan pengembangannya diserahkan ke sekolah (baca:
guru). Kondisi ini harus disikapi positif sebagai peluang lebih
memberdayakan pembelajaran dalam mendorong optimalisasi potensi anak,
termasuk pada pembelajaran matematika.
Dalam penjabaran kurikulum matematika, pengembangan soft skill
dapat ditempatkan bagai salah satu sasaran penting yang bisa diakomodasi.
Guru dapat mengintegrasikan mengembangan aspek soft skillini dalam
kompetensi belajar yang harus dikuasai peserta didik. Soft skill dapat
dipergunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam menjabarkan dan
menetapkan indikator ketercapaian kompetensi. Hal ini berarti bahwa
pengembangan soft skill memang merupakan sasaran pembelajaran yang
secara sengaja ditargetkan bagai arah pembelajaran matematika.
Selama ini mungkin telah ada upaya-upaya pengembangan soft skill
dalam pembelajaran matematika. Akan tetapi sering itu hanya efek samping
yang diharapkan wujud dari pembelajaran matematika yang dilaksanakan.
Hal ini tentu akan berbeda jika mengembangan soft skill ini dilaksanakan
secara sengaja dan terencana. Dengan yang jelas dan sistematis maka hasil
yang diperoleh akan lebih baik.
Pengembangan soft skill melalui pembelajaran matematika, selain
bermanfaat bagi anak pada masa yang akan datang, akan memberikan
keuntungan terhadap pembelajaran matematika itu sendiri. Soft skill dapat
menjadi katalis bagi proses pembelajaran matematika. soft skill dapat
membantu anak dalam belajar matematika. Keberhasialan belajar seseorang
anak cukup sekedar mengandalkan kecerdasan yang dimiliki. Kemandirian,
kedisiplinan, percayaan diri, dll juga merupakan faktor penting yang
mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang, termasuk belajar matematika.
Jika hal tersebut dapat ditumbuhkembangkan selama pembelajaran,
pembelajaran matematika itu sendiri akan mendapatkan kemanfaatan. Peserta
didik mombutuhkan itu sebagai pendukung upayanya belajar matematika.
3. Pengembangan soft skill dalam pembelajaran matematika
a. Kemauan dan kemampuan guru
MenjadI guru matematika tidaklah mudah. Matematika termasuk salah
satu mata pelajaran yang banyak tidak disukai para siswa. Matematika juga
dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang sulit. Sampai saat inipun
prestasi belajar matematika siswa diketahui sebagai salah satu yang terendah.
Di sisi yang lain, harapan terhadap pembelajaran matematika oleh masyarakat
sangatlah tinggi. Dalam kondisi seperti ini, harapan pengembangan soft skill
melalui pembelajaran matematika mungkin menjadi tambahan beban bagi
para guru. Dibutuhkan kemauan dan kemampuan dari para guru matematika
untuk bisa memenuhi harapan ini.
Komitmen guru untuk mengembangkan soft skill dalam
pembelajarannya sangatlah penting. Hal ini akan menjadi pengarah sekaligus
sumber energi bagi guru dalam mewujudkan sasaran pembelajaran yang
diinginkan. Beratnya beban mengajar matematika peserta segala kompleksitas
masalah pembelajaran yang dialami selama proses berlangsung dapat
mengesampingkan niatan mengembangkan soft skill. Apalagi kriteria
keberhasilan belajar matematika selama ini cenderung masih didasarkan pada
skor ujian yang dicapai siswa. Tanpa memiliki kemauan mengembangkan soft
skill sangat mungkin guru akan kembali terjebak pada suatu pembelajaran
yang hanya mengejar nilai semata.
Tidak sekedar kemauan yang diperlukan guru matematika agar
pengembangan soft skill dalam pembelajaran dapat dilaksanakan. Dibutuhkan
kemampuan yang baik dari guru sehingga dia bisa mengelola
pembelajarannya dengan optimal. Menyertakan pengembangan soft skill
dalam pembelajaran menuntut guru memiliki kreatifitas dalam mengelola
kelasnya. Guru perlu memiliki pemahaman dan kemampuan menerapkan
berbagai model, teknik, metode, pendekatan dan strategi pembelajaran agar
dapat mengemas kelasnya dengan lebih baik. Ramuan pembelajaran oleh
guru dengan mengoptimalkan berbagai metodologi pembelajaran sangat
menentukan seberapa jauh pengembangan soft skill dalam pembelajaran
matematika akan berhasil. Tidak ada lilin padam menerangi lingkungan.
Tidak pula ada orang buta mampu menjadi penunjuk jalan. Oleh karena itu,
hanya dengan kemampuan yang memadai dari guru tujuan pengembangan
soft skill dalam pembelajaran matematika dapat terlaksana dan memberikan
hasil yang optimal.
b. Penetapan tujuan
Salah satu langkah awal penting keberhasilan pembelajaran adalah
pemilihan secara kilat sasaran atau kebutuhan belajar peserta didik (Mercer,
1989 : 5). Identifikasi sasaran kebutuhan tersebut akan menjadi pengarah
selama pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, pengembangan soft skill
dalam pembelajaran matematika akan terwujud manakala aspek ini menjadi
salah satu aspek yang memang ingin dikembangkan dalam pembelajarannya.
Guru harus memulainya dengan memahami bahwa pengembangan soft skill
ini penting bagi anak dan bisa dilaksanakan dalam pembelajaran matematika
yang dikelolanya.
Komitmen guru dalam mengembangkan soft skill juga perlu
dikomunikasikan kepada serta didik. Kesepahaman antara guru dan siswa
bahwa pengembangan soft skill merupakan salah satu tujuan pembelajaran
sangat penting bagi ketercapaiannya selama pembelajaran. Bobbi De Porter
dalam bukunya Quantum Teaching mengemukakan bahwa salah satu
landasan penting bagi keberhasilan pembelajaran adalah adanya kesepakatan
antara guru dan siswa mengenai tujuan apa yang akan dicapai dalam
pembelajaran. Siswa memerlukan gambaran yang jelas mengenai tujuan
pembelajaran dan apa yang dapat mereka lakukan (peroleh) sebagai hasilnya.
Mengetahui tujuan yang jelas dan memberikan harapan kegunaannya akan
membawa siswa terlibat secara aktif dan bersemangat. pemahaman tentang
tujuan pembelajaran yang dilaksanakan akan menjadi pengarah siswa dimana
mereka akan berproses, Oleh karena itu, sejak sebelum pembelajaran
matematika dilaksanakan, jika guru matematika memang berkehendak
mengembangkan soft skill dalam pembelajarannya, guru harus
mengkomunikasikan tujuan tersebut sehingga siswa memiliki arah yang
sejajar dengan guru selama pembelajaran berlangsung.
c. Perencanaan pembelajaran
Persiapan atau perencanaan pembelajaran merupakan salah satu aspek
terpenting yang harus mendapat perhatian guru agar pembelajaran yang
dilaksanakan bisa memberikan hasil seperti yang diharapkan (Burden &
Byrd, 1999 : 19). Keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan kualitas
persiapan yang dilakukan. Sasaran, prosedur, dan proses pembelajaran perlu
diskenariokan sebaik mungkin agar pembelajaran memberikan kemanfaatan
optimal. Oleh karena itu, tercapai atau tidaknya tujuan pengembangan soft
skill dalam pembelajaran matematika sangat tergantung dari perencanaan
pembelajaran yang dibuat guru. Jika guru matematika memang menginginkan
bisa mengembangkan soft skill dalam pembelajarannya, guru harus
mengawalinya pada tahap ini.
Pada Kurikulum 2004, perencanaan pembelajaran yang perlu dibuat
guru antara lain meliputi : silabus, rancangan penilaian, dan rencana
pelaksanaan pembelajaran. Ketiga hal sebut mencakup
perancangan/penskenarioan proses pembelajaran yang akan diksanakan. Pada
ketiganya berbagai sasaran, prosedur, dan hasil pembelajaran dipilih, ditata
agar memberikan hasil optimal. Dengan demikian, tingkat keberhasilan
pengembangan soft skill dalam pembelajaran matematika sangat ditentukan
ketika ketiga hal tersebut disusun guru.
Pada pengembangan silabus, guru matematika harus mampu
menjabarkan kurikulum menjadi uraian pembelajaran yang lebih mendetail
dengan memperhatikan aspek ngembangan soft skill siswa. Silabus
merupakan produk pengembangan kurikulum berupa pengembangan lebih
lanjut dari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ingin dicapai, dan
pokok-pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari siswa untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Silabus dikembangkan sebagai rambu-rambu bagaimana
pembelajaran akan dilaksanakan. Dalam konteks pengembangan soft skill,
guru harus mampu mendesain pengalaman belajar yang akan dilakukan siswa
sedemikian sehingga tujuan pengembangan soft skill siswa dapat tercapai.
Dalam hal ini, guru juga harus memperhatikan ketersediaan waktu yang ada
serta mengoptimalkan berbagai sumber/ bahan belajar yang mendukung.
Rancangan penilaian juga merupakan aspek yang penting dicermati.
Penilaian merupakon bagian yang terpisahkan dengan proses pembelajaran
itu sendiri. Melalui penilaian dapat diketahui keberhasilan suatu proses
pembelajaran. Tujuan pembelajaran mana yang sudah/ belum berhasil
tercapai selama pembelajaran dapat diketahui melalui hasil penilaian yang
dilaksanakan. Selain itu, penilaian juga akan memberikan umpan balik yang
konstruktif, baik bagi guru maupun siswa. Bahkan, menurut Mercer (1989 :
15), penilaian yang dilakukan guru dapat mempengaruhi belajar yang
dilakukan siswa. Siswa cenderung mengarahkan kegiatan belajarnya menuju
muara penilaian yang dilakukan guru. Dengan demikian, guru harus mampu
merancang penilaian sedemikian sehingga penilaian itu benar-benar
mendorong siswa mengoptimalkan potensinya. Pengembangan soft skill oleh
siswa juga perlu diberikan umpan balik yang memadai dalam penilaiannya
sehingga siswa terjaga dan termotivasi pada pengembangan aspek ini. Hal ini
berarti pada tahap pembuatan rancangan penilaian, guru matematika harus
menskenariokan bagaimana umpan balik terhadap pengembangan soft skill
siswa dilakukan.
Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran juga harus
dilaksanakan guru dengan emperhatikan pengembangan soft skill siswa.
Komponen ini merupakan rencana riil yang akan dilaksanakan pada
pembelajaran dan bermanfaat sebagai panduan guru dalam melaksanakan
setiap tugas pengajarannya sehingga tujuan pembelajaran, tercapai.
ketercapaian tujuan pengembangan soft skill pada pembelajaran matematika
bergantung pada sejauh mana guru mempersiapkan pembelajarannya pada
komponen ini. Pada saat guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran,
guru harus mampu memilih metodologi pembelajaran yang mendorong dan
menjamin bahwa pengembangan soft skill siswa dilaksanakan dan
memberikan hasil seperti yang diharapkan.
a. Pelakaanaan pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran merupakan tahapan inti dari proses
pembelajaran. Pada tahap inilah "proses belajar" peserta didik berlangsung.
Sebaik apapun persiapan yang dilakukan tidak akan berarti apa-apa jika
pembelajaran tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Demikian pula dalam
rangka pengambangan soft skill pada pembelajaran matematika. Berbagai
skenario yang telah dirancangkan pada tahap perencanaan harus benar-benar
dapat diimplementasikan selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung.
Keberhasilan pengembangan soft skill siswa bergantung seberapa
jauh guru mampu mendorong dan memantau kemanjuan belajar anak selama
pembelajaran berlangsung. Perhatian dan umpan balik guru sangat
mempengaruhi berhasil atau gagalnya siswa berkembang pada aspek ini.
Guru juga harus membantu siswa tetap pada jalur menuju berkembangnya
aspek soft skill ini. Kesepahaman di awal bahwa tujuan pembelajaran bukan
sekedar mengejar target pencapaian nilai melainkan juga mengembangkan
aspek soft skill harus tetap dijaga dan diterjemahkan melalui kerjasama antara
guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung.
Guru megang peranan kunci pada setiap pelaksanaan pembelajaran.
Hal ini tidak berarti bahwa guru harus mendominasi kelas. Guru merasa
bertanggung jawab terhadap keberhasilan belajar peserta didiknya merupakan
bentuk komitmen terhadap tugasnya, tetapi menganggap dirinya sebagai yang
paling bertanggung jawab sering kali guru justru berbuat yang kontraproduktif.
Guru berusaha menerangkan sebanyak mungkin, berbicara lebih
banyak, memberi contoh berlebihan, memberikan dan membanjiri siswa
dengan seabrek informasi. Guru sering tidak memberi kesempatan yang
cukup kepada siswa untuk bertanggungjawab terhadap keberhasilan
belajamya. Jika pembelajaran demikian yang dilaksanakan guru, maka tujuan
pengembangan soft skill siswa melalui pembelajaran matematika tidak akan
memperoleh ruang yang memadai. Guru, demi kesuksesan belajar yang lebih
baik bagi siswanya, harus berani dan bersedia mendorong siswa agar mau dan
mampu bertanggungjawab terhadap aktivitas belajar yang sedang
berlangsung. Guru harus secara kreatif memanfaatkan setiap momentum
untuk menggeser tanggung jawab belajar pada siswa. Pengembangan soft skill
siswa hanya akan terwujud jika siswa diberi ruang lebih longgar untuk
mengalami lebih banyak pengalaman belajar.
Penciptaan kondisi belajar yang kondusif bagi pengembangan soft
skill siswa juga mutlak harus diperhatikan guru matematika. Pelajaran
matematika yang cenderung dipersepsikan dengan beban, aktivitas yang sulit,
membosankan, tidak ada kegembiraan, rasa tertekan, dan entah perasaan
negatif apalagi, perlu diubah oleh guru. Guru matematika harus mampu
mengelola pembalajarannya dengan tetap menjaga minat, motivasi, dan
keoptimisan siswa. Guru perlu lebih kreatif menggubah kelas menjadi lebih
menggembirakan, posistif, dan membangkitkan semangat peserta didik untuk
belajar. Terciptanya kondisi belajar matematika yang kondusif sangat
mempengaruhi keberhasilan pengembangan soft skill. Untuk mendorong
pengembangan soft skill siswa perlu dibangun lingkungan sosial yang positif
di antara anggota komunitas belajar, antar siswa, atau antara siswa dan guru.
Terbinanya hubungan yang harmonis antar anggota komunitas belajar akan
mendukung hasil belajar yang lebih baik (Dave Meier, 1999).
D. Penutup
Dari awal hinga akhir makalah ini, penulis memaparkan bagaimana
pembelajaran matematika perlu dan bisa mengembangkan soft skill siswa. Hal
ini tidak berarti bahwa pengembangan kecakapan lain melalui pembelajaran
matematika tidak penting. Penulis berharap bahwa keberadaan mata pelajaran
matematika di sekolah benar-benar mampu memberikan hak bagi tumbuh dan
berkembangnya peserta didik secara optimal sehingga bermanfaat bagi
kehidupannya di masa yang akan datang.
Referensi
Bobbi DePorter, dkk. 2000. Quantum Touching : Mempraktikkan Quantum Learning
di ruang-ruang kelas. Bandung : Kaifa
Burden & Dyrd. 1999. Effoctivo Toacliing. United States : A Viacom Company
Depdiknas. 2003. Standar kompefensi mata pelajaran matematika Sekolah
Menengah Atas dan Madrasah Aliyah. Jakarta : Puskur
Dave Meier. 1999. The accelerated learning handbook : panduan kreatif dan efektff
merancang program pendidikan dan peatihan. Bandung : Kaifa
Mercer. 1989. Teaching students with learning problems. United States : Merrill
Publishing Company
Permendikbud Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan
Pendidikan Dasar dan Menengah
Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan
Dasar dan Menengah
Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan
Permendikbud Nomor 67 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar Dan Struktur
Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
Permendikbud Nomor 68 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar Dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
Permendikbud Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar Dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah
Permendikbud Nomor 70 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar Dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah
Kejuruan
Sukses dengan soft-skills. (http://www. ditdik.itb.ac.id/ soft_skills/Bu1.html).
Diakses pada tanggal 11 Juni 2008
Wikipedia. Soft skills. http://en.wikipedia.org/wiki/Soft_skills. Diakses pada tanggal
11 Juni 2008

kemampuan koneksi matematika

Pengertian Koneksi Matematika
Menurut National Council of Teacher of Mathematics (NCTM)
tahun 1989, koneksi matematika merupakan bagian penting yang harus
mendapatkan penekanan di setiap jenjang pendidikan. Koneksi matematika
adalah keterkaitan antara topik matematika, keterkaitan antara matematika
dengan disiplin ilmu yang lain dan keterkaitan matematika dengan dunia
nyata atau dalam kehidupan sehari–hari.
Namun dalam kenyataannya, kurikulum matematika umumnya
dipandang sebagai kumpulan sejumlah topik sehingga masing–masing topik
cenderung diajarkan secara terpisah. Hal ini tentu saja membuat siswa harus
mengingat konsep yang terlalu banyak dan tidak mengenali prinsip–prinsip
umum yang relevan dengan berbagai bidang.
Oleh karena itu, kurikulum hendaknya membantu siswa untuk
dapat melihat bagaimana ide–ide matematika saling berkaitan. Apabila ide
matematika dikaitkan dengan pengalaman sehari–hari siswa maka tentunya
siswa akan menghargai kegunaan matematika.
2.Ruang Lingkup dan Aspek Koneksi Matematika
Secara umum, ada dua tipe koneksi, yaitu :
1.Koneksi pemodelan
Koneksi pemodelan adalah hubungan antara situasi dengan masalah yang
dapat muncul di dunia nyata atau dalam disiplin ilmu lain dengan
representasi matematikanya.
2.Koneksi matematika
Koneksi matematika adalah hubungan antara dua representasi yang
ekuivalen dan antara proses penyelesaian dari masing–masing representasi.
2
Gambar :
Koneksi pemodelan
Koneksi matematika
Contohnya : jika suatu situasi masalah memiliki koneksi pemodelan dengan
persamaan aljabar dan grafik, maka representasi aljabar memiliki koneksi
matematika dengan representasi grafik. Koneksi matematika juga terjadi
antara proses perhitungan aljabar dengan analisis grafik yang menghasilkan
penyelesaian yang sama.
Menurut Coxford (1995:4), terdapat tiga aspek yang berkaitan
dengan koneksi matematika, yaitu :
1.Penyatuan tema–tema
Penyatuan tema–tema seperti perubahan (change), data dan bentuk (shape)
dapat digunakan untuk menarik perhatian terhadap sifat dasar matematika
yang saling berkaitan. Gagasan tentang perubahan dapat menjadi
penghubung antara aljabar, geometri, matematika diskrit dan kalkulus.
Misalnya : bagaimana kaitan antara laju perubahan tetap dengan garis dan
persamaan garis ?. Bagaimana keliling suatu bangun datar dapat berubah
ketika bangun datar tersebut ditranformasikan ? Apakah artinya laju
perubahan sesaat dari suatu fungsi di suatu titik ?. Setiap pertanyaan
tersebut memberikan kesempatan untuk mengaitkan topik–topik
matematika dengan menghubungkannya melalui tema perubahan. Tema
lain yang memberikan kesempatan yang luas untuk membuat koneksi
matematika adalah data. Misalnya data berpasangan menjadi konteks dan
motivasi untuk mempelajari fungsi linear karena data berpasangan sering
ditampilkan dengan grafik fungsi. Selain itu, bentuk adalah tema lain yang
Situasi Masalah
Representasi 1 Representasi 2
Penyelesaian
3
dapat digunakan untuk memperlihatkan koneksi. Sebagai contoh : bentuk
kurva berkaitan dengan karakteristik datanya.
2.Proses matematika
Proses matematika meliputi : representasi, aplikasi, problem solving dan
reasoning. Empat kategori aktivitas ini akan terus berlangsung selama
seseorang mempelajari matematika. Agar siswa dapat memahami konsep
secara mendalam, mereka harus dapat membuat koneksi di antara
representasi. Aktivitas aplikasi, problem solving dan reasoning
membutuhkan berbagai pendekatan matematika sehingga siswa dapat
menemukan koneksi. Sebagai contoh : untuk mencari turunan dengan
menggunakan definisi fungsi, siswa harus mengaplikasikan limit dan
komposisi fungsi. Komposisi fungsi dengan polinom berderajat besar
melibatkan ekspansi binomial, yang koefisiennya dapat diperoleh melalui
perhitungan kombinatorik. Aktivitas problem solving seperti pencarian nilai
optimum melibatkan pemodelan, representasi aljabar atau kalkulus.
Sedangkan aktivitas reasoning seperti pembuktian rumus–rumus turunan.
3.Penghubung–penghubung matematika
Fungsi, matriks, algoritma, variabel, perbandingan dan transformasi
merupakan ide–ide matematika yang menjadi penghubung ketika
mempelajari topik–topik matematika dengan spektrum yang luas.
3.Tujuan Koneksi Matematika
Adapun tujuan koneksi matematika menurut NCTM (1989:146)
adalah agar siswa dapat :
1.Mengenali representasi yang ekuivalen dari suatu konsep yang sama.
2.Mengenali hubungan prosedur satu representasi ke prosedur representasi
yang ekuivalen.
3.Menggunakan dan menilai koneksi beberapa topik matematika.
4.Menggunakan dan menilai koneksi antara matematika dan disiplin ilmu
yang lain.
4
Berdasarkan keterangan NCTM di atas, maka koneksi matematika
dapat dibagi ke dalam tiga aspek kelompok koneksi, yaitu :
1.Aspek koneksi antar topik matematika
Aspek ini dapat membantu siswa menghubungkan konsep–konsep
matematika untuk menyelesaikan suatu situasi permasalahan matematika.
Contoh : untuk menghitung sisa dari sukubanyak f x 3x3  2x2  x  5
oleh x 1 maka langkah penyelesaiannya dapat dilakukan melalui proses
aljabar (substitusi) atau melalui proses bagan (pembagian bersusun, horner)
2.Aspek koneksi dengan disiplin ilmu lain.
Aspek ini menunjukkan bahwa matematika sebagai suatu disiplin ilmu,
selain dapat berguna untuk pengembangan disiplin ilmu yang lain, juga
dapat berguna untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang berkaitan
dengan bidang studi lainnya.
Contoh : untuk menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan gerak
parabola pada bidang studi fisika, yaitu menghitung jarak terjauh dari
sebuah batu yang dilemparkan oleh seorang anak dengan kecepatan awal
dan sudut elevasi tertentu. Masalah ini berkaitan dengan konsep sudut
rangkap pada trigonometri dalam matematika.
3.Aspek koneksi dengan dunia nyata siswa / koneksi dengan kehidupan
sehari–hari. Aspek ini menunjukkan bahwa matematika dapat bermanfaat
untuk menyelesaikan suatu permasalahan di kehidupan sehari–hari.
Contoh : untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan
aritmatika sosial, misalnya menghitung dan menentukan untung atau rugi
dari suatu transaksi jual beli.
Melalui ketiga aspek koneksi matematika di atas beserta
contohnya, siswa akan semakin menyadari bahwa konsep–konsep
matematika memang saling berkaitan dan mereka juga akan memahami
betapa pentingnya matematika untuk memecahkan permasalahan sehari–hari
baik di sekolah maupun di luar sekolah.
5
4.Kemampuan Koneksi Matematika
Kemampuan–kemampuan yang diharapkan setelah siswa
mendapatkan pembelajaran yang menekankan pada aspek koneksi
matematika menurut standar kurikulum NCTM adalah :
1.Siswa dapat menggunakan koneksi antar topik matematika.
2.Siswa dapat menggunakan koneksi antara matematika dengan disiplin ilmu
lain.
3.Siswa dapat mengenali representasi ekuivalen dari konsep yang sama.
4.Siswa dapat menghubungkan prosedur antar representasi ekuivalen.
5.Siswa dapat menggunakan ide–ide matematika untuk memperluas
pemahaman tetang ide–ide matematika lainnya.
6.Siswa dapat menerapkan pemikiran dan pemodelan matematika untuk
menyelesaikan masalah yang muncul pada disiplin ilmu lain.
7.Siswa dapat mengeksplorasi dan menjelaskan hasilnya dengan grafik,
aljabar, model matematika verbal atau representasi.
5.Rubrik Penskoran
Contoh rubrik penskoran untuk soal uraian adalah sebagai berikut :
Skor Interpretasi Keterangan
3 Jawaban jelas Jawaban siswa jelas, sistematis, tepat pada sasaran, sesuai
dengan kunci jawaban.
Maksudnya :
Siswa dapat menjawab soal dengan jelas, mengetahui
urutan dan arah penyelesaian soalnya serta hasil yang
diperoleh sesuai dengan kunci jawaban yang telah dibuat.
2 Menjawab
sebagian saja
Jawaban siswa jelas, sistematis, tepat pada sasaran, tidak
sesuai dengan kunci jawaban.
Maksudnya :
Siswa dapat menjawab soal dengan jelas, mengetahui
urutan dan arah penyelesaian soalnya, tetapi hasil yang
diperoleh tidak sesuai dengan kunci jawaban yang telah
dibuat.
6
Skor Interpretasi Keterangan
1 Hanya sekedar
menjawab saja
Jawaban siswa tidak jelas, tidak sistematis, tidak tepat
sasaran dan juga tidak sesuai dengan kunci jawaban yang
telah dibuat.
0 Tidak
menjawab
sama sekali

Kumpulan jurnal gratis pdf

Free International Journal pdf

Free jurnal Pendidikan Indonesia :
Panduan mendapatkan e-journal gratis dari program DIKTI :
 Panduan-e-journal gratis dari dikti

Jurnal pendidikan gratis (PENGARUH MOTIVASI BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA DI SEKOLAH DASAR)

PENGARUH MOTIVASI BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA DI SEKOLAH DASAR adalah judul dari postingan kali ini. PENGARUH MOTIVASI BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA DI SEKOLAH DASAR adalah salah satu judul yang ada dalam jurnal pendidikan (Jurnal Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1, April 2011). sebelum sharematika berbagi jurnal tentang pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar ipa disekolah dasar alangkah baiknya sharematika mengucapkan salam sapa untuk sahabat sharematika semua, berjumpa lagi dengan sharematika, blog yang membahas semua tentang matematika. pada kesempatan kali ini sharematika akan berbagi jurnal pendidikan gratis (PENGARUH MOTIVASI BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA DI SEKOLAH DASAR).
Bagi yang membutuhkan langsung saja download jurnal pendidikan gratis dibawah ini :
download :PENGARUH MOTIVASI BELAJAR SISWA TERHADAP PESTASI BELAJAR IPA DI SEKOLAH DASAR, klik disini

Abstract
Motivation is one of the several things which determine the successful of the student
learning activity. Without motivation, learning process is difficult to achieve optimum success. The
use of the principle of motivation is something essential in the learning and education process. This
article is thrilled to investigate the influence of learning motivation to the student science performance.
This correlation descriptive study was conducted as a case study on elementary school fourth grade
students and the objective was to describe the level of influence of student’s motivation toward
science performance. A total of 26 fourth grade students at Tarumanagara Elementary School District
Tawang are used as a sample. Data was collected using a questionnaire as an instrument of learning
motivation variables and test results as the average student achievement variable. Results of data
processed with statistical calculations and the average correlation performed using SPSS 16.0. Results
showed that on average, learning motivation and science learning performance of students achieve
good interpretation. The Influence of student’s learning motivation showed significant high correlation
and donate the influence of 48.1% on student’s science performance.
Keywords: Learning Motivation, Science Performance.

Abstrak:
 Motivasi adalah salah satu hal yang berpengaruh pada kesuksesan aktifitas pembelajaran
siswa. Tanpa motivasi, proses pembelajaran akan sulit mencapai kesuksesan yang optimum. Artikel
ini ditujukan untuk menyelidiki pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar IPA siswa. Penelitian
korelasi deskriptif ini dilakukan sebagai studi kasus terhadap siswa kelas empat Sekolah Dasar dan
tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan level dari pengaruh motivasi siswa terhadap
prestasi belajar IPA. Terdapat total 26 siswa kelas empat Sekolah Dasar dari SD Tarumanagara
kecamatan Tawang, Tasikmalaya yang dijadikan sample dalam penelitian ini. Data-data dikumpulkan
melalui questionare instrument dari variable motivasi belajar dan juga hasil test siswa sebagai variable
rata-rata pencapaian siswa. Hasil dari data-data diproses melalui perhitungan statistic dan korelasi
rata-rata, didapat melalui penggunaan SPSS 16.0. Data menunjukkan interprestasi tingkat reliabilitas
tinggi besarnya pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar IPA adalah sebesar 48,1%.
Keywords:Motivasi belajar, Prestasi belajar IPA


JURNAL PENDIDIKAN gratis pdf (PENELITIAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN BERDASARKAN PENDEKATAN SISTEM )

JURNAL PENDIDIKAN. Vol. 12, No. 2, Desember 2006 :152 -163 adalah judul dari postingan kali ini. sebelum sharematika berbagi jurnal pendidikan gratis pdf alangkah baiknya sharematika mengucapkan salam sapa untuk sahabat sharematika semua, berjumpa lagi dengan sharematika blog yang membahas semua tentang matematika. kali ini sharematika membahas tentang jurnal pendidikan gratis pdf yaitu JURNAL PENDIDIKAN. Vol. 12, No. 2, Desember 2006 :152 -163. silahkan langsung saja download jurnal pendidikan gratis pdf dibawah ini :
download jurnal pendidikan gratis pdf, klik disini

salah satu judul dalam jurnal : PENELITIAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN
BERDASARKAN PENDEKATAN SISTEM 

abstract
Dunia pendidikan tidak pemah bebas dari masalah, baik yang bersifat makro, maupun
mikro, meliputi masalah kuantitas, kualitas, relevansi, efektivitas dan efisiensi. Pemecahan
masalah pendidikan secara tepat harus didasarkan pada pendekatan ilmiah dengan menerapkan
pengetahuan ilmiah yang berkaitan dengan masalah pendidikan. Pengetahuan ilmiah berfungsi
mendeskripsikan, menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol. Pengkajian penelitian teknologi
pembelajaran berdasarkan pendekatan sistem ditinjau dari konsep pendekatan sistem atau
berpikir sistem, Variabel pembelajaran dalam penelitian pembelajaran dan penerapan berpikir
sistem pada penelitian pembelajaran. Kesimpulannya, untuk mewujudkan tujuan pendidikan
perlu dilakukan suatu penelitian. Konsep berpikir sistem dalam menelaah masalah penelitian
hirus melihat masalah secara keseluruhan dengan menentukan faktor-faktor yang terkait.
Pembelajaran dapat dipandang sebagai suatu sistem karena terdapat komponen-komponen yang
sering berkaitan dalam mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Kata kunci : Penelitian, Pembelajaran, Pendekatan Siswa

selengkapnya tentang isi jurnal pendidikan gratis pdf langsung download saja : penelitian teknologi pembelajaran berdasarkan pendekatan sistem, klik disini

Journal of Research in Innovative Teaching vol 7

Journal of Research in Innovative Teaching vol 7 adalah judul dari postingan kali ini. sebelum sharematika berbagi jurnal gratis, alangkah baiknya sharematika mengucapkan salam sapa untuk sahabat sharematika semua, berjumpa lagi dengan sharematika blog yang membahas semua tentang matematika. kali ini sharematika akan berbagi jurnal gratis yaitu : Journal of Research
in Innovative Teaching.
bagi yang membutuhkan jurnal international gratis bisa langsung download, klik disini.
dibawah ini adalah daftar isi jurnal gratis international

Table of Contents
Editor’s Column ......................................................................................................................... iii
Research at National University
Peter Serdyukov, Huda Makhluf
Growing National University Research Culture: Goals and Steps .............................................. 2
Educators’ Perspectives
Marius Boboc, R. D. Nordgren
Modern and Post-Modern Teacher Education: Revealing Contrasts in Basic
Educational Beliefs and Practice ................................................................................................ 14
Kevin Celuch, Bryan Bourdeau, Jack Smothers
Thinking Innovatively about Teaching Innovation and Ideation: Getting Students
to Think Differently ................................................................................................................... 27
Cynthia Schubert-Irastorza, Dee L. Fabry
Job Satisfaction, Burnout and Work Engagement in Higher Education: A Survey of
Research and Best Practices ....................................................................................................... 37
Enid Acosta-Tello, Carol Shepherd
Equal Access for All Learners: Differentiation Simplified ........................................................ 51
Brian Tilley
The Elephant in the Room: Issues with Graduate Student Behavior and the Potential
Link to Large Class Sizes .......................................................................................................... 58
Teaching Subject Matter
Roberta C. Anderson, Gordon W. Romney
Student Experiential Learning of Cyber Security through Virtualization ................................. 72
Olena Scafa
Heuristically Oriented Systems of Problems in Teaching Mathematics ................................... 85
Gordon W. Romney, Baird W. Brueseke
Merging the Tower and the Cloud through Virtual Instruction: The New Academy
of Distance Education ................................................................................................................ 93
ii
Web-based Learning
Steven Brownson
Embedding Social Media Tools in Online Learning Courses .................................................. 112
Thomas J. Francl
Is Flipped Learning Appropriate? ............................................................................................. 119
Assessment and Evaluation
Dilani M. Perera-Diltz, Jeffry L. Moe
Formative and Summative Assessment in Online Education .................................................. 130
S. R. Subramanya
Toward a More Effective and Useful End-of-Course Evaluation Scheme ............................... 143
Book Review
Larry Powell
Innovative Educational Leadership Through a Cycle of Change

Selengkapnya tentang isi jurnal, bisa langsung didownload jurnal gratis international pdf, klik disini.

journal of research in innovative teaching volume 5

journal of research in innovative teaching volume 5 adalah judul dari postingan  kali ini. sebelum sharematika berbagi journal of research in innovative teaching volume 5, alangkah baiknya sharematika mengucapkan salam sapa untuk sahabat sharematika semua, berjumpa lagi dengan sharematika blog yang membahas semua tentang matematika, berhubung penulis blog ini sedang skripsi jadi sharematika banyak menuliskan tentang kebutuhan skripsi seperti jurnal pendidikan gratis dan jurnal international gratis.
langsung saja download : journal of research in innovative teaching volume 5, klik disini.

Table of Contents

Editor’s Column v

General Issues 1

  • Kenneth D. Fawson (Impact of the Global Recession on Public vs. Private Universities: The Winners and Losers)
  • R.D. Nordgren (Why Schooling? The Collaborative Perceptions of Education Students Regarding the Purpose of Public Education Web-based Learning)
  • Jodi Reeves, Mohammad Amin, Marcos Turqueti, and Pradip Peter Dey (Improving Laboratory Effectiveness in Online and Onsite Engineering Courses at National University)
  • Lynne Anderson and John Cartafalsa Learning and Teaching Quality Preferences for e-Learning
  • Dee L. Fabry (Using Student Online Course Evaluations to Inform Pedagogy 
  •  
  • Michael P. Myers and Patric M. Schilt (Use of Elluminate in Online Teaching of Statistics in the Health Sciences)
  • Donald A. Schwartz (Effectiveness of Learning in Online Versus On-Campus Accounting Classes: A Comparative Analysis)
  • Cynthia Sistek-Chandler (Connecting the Digital Dots with Social Media Educational Technology Application)
  • Pradip Peter Dey, Gordon W. Romney, Mohammad Amin, Bhaskar Raj Sinha, Ronald F. Gonzales, and S. R. Subramanya (A Structural Analysis of Agile Problem Driven Teaching)
  • S.R. Subramanya (Enhancing Digital Educational Content Consumption ExperienceInstructional Methodology)
  • Patricia C. Skalnik and J. Robert Skalnik (Active Learning and Innovation in Marketing Education: A Case Review Oleg Tarnopolsks Experiential Learning of EFL for Professional Communication at Tertiary Educational Institutions
  •  Charles Tatum and Julia C. Lenel (A Comparison of Self-Paced and
Selengkapnya dari isi jurnal  : journal of research in innovative teaching volume 5, langsung download saja, klik disini


Journal educational technology and society

Journal educational technology and society adalah judul dari postingan kali ini. Sebelum sharematika berbagi jurnal educational technology and society alangkah baiknya sharematika mengucapkan salam sapa untuk sahabat sharematika semua, berjumpa lagi dengan sharematika, blog yang membahas semua tentang matematika. kali ini sharematika berbagi jurnal pendidikan gratis.
Langsung saja download jurnal educational technology and society, klik disini.

Isi dari jurnal

Social Learning Analytics
Abstract
We propose that the design and implementation of effective Social Learning Analytics (SLA) present significant challenges and opportunities for both research and enterprise, in three important respects. The first is that the learning landscape is extraordinarily turbulent at present, in no small part due to technological drivers. Online social learning is emerging as a significant phenomenon for a variety of reasons, which we review, in order to motivate the concept of social learning. The second challenge is to identify different types of SLA and their associated technologies and uses. We discuss five categories of analytic in relation to online social learning; these analytics are either inherently social or can be socialised. This sets the scene for a third challenge, that of implementing analytics that have pedagogical and ethical integrity in a context where power and control over data are now of primary importance. We consider some of the concerns that learning analytics provoke, and suggest that Social Learning Analytics may provide ways forward. We conclude by revisiting the drivers and trends, and consider future scenarios that we may see unfold as SLA tools and services mature.

Integrating Data Mining in Program Evaluation of K-12 Online Education 
abstract
This study investigated an innovative approach of program evaluation through analyses of student learning logs, demographic data, and end-of-course evaluation surveys in an online K–12 supplemental program. The results support the development of a program evaluation model for decision making on teaching and learning at the K– 12 level. A case study was conducted with a total of 7,539 students (whose activities resulted in 23,854,527 learning logs in 883 courses). Clustering analysis was applied to reveal students’ shared characteristics, and decision tree analysis was applied to predict student performance and satisfaction levels toward course and instructor. This study demonstrated how data mining can be incorporated into program evaluation in order to generate in-depth information for decision making. In addition, it explored potential EDM applications at the K- 12 level that have already been broadly adopted in higher education institutions.

Translating Learning into Numbers: A Generic Framework for Learning Analytics
abstract
With the increase in available educational data, it is expected that Learning Analytics will become a powerful means to inform and support learners, teachers and their institutions in better understanding and predicting personal learning needs and performance. However, the processes and requirements behind the beneficial application of Learning and Knowledge Analytics as well as the consequences for learning and teaching are still far from being understood. In this paper, we explore the key dimensions of Learning Analytics (LA), the critical problem zones, and some potential dangers to the beneficial exploitation of educational data. We propose and discuss a generic design framework that can act as a useful guide for setting up Learning Analytics services in support of educational practice and learner guidance, in quality assurance, curriculum development, and in improving teacher effectiveness and efficiency. Furthermore, the presented article intends to inform about soft barriers and limitations of Learning Analytics. We identify the required skills and competences that make meaningful use of Learning Analytics data possible to overcome gaps in interpretation literacy among educational stakeholders. We also discuss privacy and ethical issues and suggest ways in which these issues can be addressed through policy guidelines and best practice examples.

itulah salah tiga isi dari jurnal pendidikan teknologi dan sosial.
karena keterbatasan waktu penulis sehingga hanya bisa menuliskan 3 judul dan 3 abtract. untuk lebih lengkapnya dengan jurnal pendidikan teknologi dan sosial bisa langsung didownload, klik disini.








Developing an Approach for Learning Design Players jime submisssion

Developing an Approach for Learning Design Players jime submisssion adalah judul dari postingan kali ini. sebelum sharematika berbagi jurnal international gratis pdf : Developing an Approach for Learning Design Players jime submisssion alangkah baiknya sharematika mengucapkan salam sapa untuk sahabat sharematika semua, berjumpa lagi dengan sharematika, blog yang membahas semua tentang matematika. berhubung penulis sedang melakukan skripsi, maka akhir-akhir ini postingan di sharematika menjadi berisi kebutuhan kebutuhan skripsi saya, termasuk jurnal international : Developing an Approach for Learning Design Players jime submisssion dan jurnal indonseia sebagai literatus karya ilmiah dan referensi skripsi. dibawah ini adalah jurnal international : Developing an Approach for Learning Design Players jime submisssion, klik disini untuk mendownloadnya.