Makalah Kedatangan islam di nusantara

Kedatangan islam di nusantara adalah judul dari Postingan kali  ini. Makalah ini dibuat oleh teman-teman guna menyelesaikan tugas yang diberikan. Sebelum membahas makalah kedatangan islam dinusantara, sharematika mengucapkan salam sapa untuk sahabat sharematika semua. Berjumpa lagi dengan sharematika, blog yang membahas semua materi matematika sd, materi matematika smp, materi matematika sma, dan materi matematika perguruan tinggi.Berikut adalah Pembahasan tentang kedatangan islam di nusantara.



PEMBAHASAN
A.    Kedatangan Islam di nusantara
Di kalangan sejarawan timbul perbedaan pendapat tentang sejarah Islam di Indonesia : kapan masuknya, darimana sumbernya, dan bagaimana caranya? Hal ini disebabkan oleh kurang informatifnya sumber-sumber yang ada. Rickles menyimpulkan, walaupun masa masuknya Islam ke Indonesia merupakan periode terpenting dalam sejarah Indonesia, periode ini juga paling tidak jelas. De Graaf, misalnya, setelah meneliti berbagai kepustakaan lam yang disusun oleh penulis pribumi, sampai pada kesimpulan :
“Historiografi Indonesia dan Malaysia tentang sejarah awal Islam di kawasan ini tidak terlalu dapat dijadikan pegangan, walaupun begitu tidak dapat diabaikan sama sekali. Kebanyakan historiografi nusantara itu lebih banyak berisi  “mitos” daripada “sejarah” dalam pandangan Barat.”
Sebagai bahan perbandingan, kesimpulan Dr. Azyumardi Azra patut dikemukakan :
“Sejarah Islam di Asia Tenggara di masa awal, luar biasa galau dan rumit.... Hingga kini belum dirumuskan suatu paradigma historis yang dapat dijadikan pegangan bersama.”
Secara umum, ada dua pendapat mengenai hal ini :
1)        Islam masuk ke Indonesia pada abad ke -8 Miladiyah.
Sebagian besar pendapat ini didukung oleh para ilmuwan muslim di Indonesia dan Malaysia.
2)        Islam baru masuk pada abad ke-13 M, sebagaimana dikemukakan oleh sebagian besar ilmuwan asing, terutama sejarawan Belanda.
Pendapat pertama berdasarkan argumentasi bahwa sejak abad ke-4 Miladiyah telah terdapat jalur transportasi yang menghubungkan Siraf di Parsi, India, dengan daratan Cina. Di daratan Cina sendiri terdapat catatan tentang kedatangan orang-orang Islam pertama (yang disebut dengan nama Ta-Shih) pada permulaan pemerintahan dinasti Tang ( 618-107 M), yaitu orang-orang Persia (tahun 651 M), utusan kedua (tahun 655 M), dan utusan ketiga (tahun 681 M). Dalam masa pemerintah Dinasti Bani Umayyah, dikirim 17 utusan diplomatik ke Cina antara tahun 661-751 M. Lewat hubungan ini, terbentuklah pemukiman-pemukiman Islam di Cina dan dalam kurun waktu ini sudah ada orang Cina yang memeluk agama Islam.
Sementara itu, semenjak masa kuno, wilayah barat nusantara di sekitar malaka telah menjadi titik perhatian dalam jalur tranportasi internasional. Hasil bumi yang dijual di daerah itu menarik perhatian para pedagang. Pala dan cengkeh yang berasal dari maluku dipasarkan kepada para pedagang asing di Jawa Dan Sumatra sering disinggahi kapal-kapal asing. 
Jarak Siraf-Cina harus ditempuh selama satu setengah tahun dengan singgah di pelabuhan Malabor di India, perlak di Sumatra utara, dan Kedah di pantai barat semenanjung Malaysia. Mereka singgah selama dua minggu sampai tiga bulan sebelum melanjutkan perjalanan. Menurut catatan Sar Desai, ada 35 buah kapal Persia yang singgah selam enam bulan di Palembang, kota pelabuhan kerajaan Sriwijaya, pada tahun 671 Masehi.
Pada abad ke-7 telah terbentuk pemukiman orang-orang Islam di pantai barat laut Sumatra, yaitu di Barus, daerah penghasil kapur barus terkenal. Selain itu, dari tulisan-tulisan orang-orang Arab ditemukan pula crita-cerita tentang kepulauan nusantara yang merupakan indikator sudah terjalinnya hubungan antara keduanya.
Sedangkan pendapat yang kedua lebih banyak berdasarkan sumber-sumber asing yang ditulis oleh orang-orang Eropa. Mereka datang ke Asia tenggara sebagai pengembara, wartawan, misionaris, dan kemudian agen kolonialis-imperialis.
Penyebaran Islam secara pesat di kepulauan nusantara diperkirakan baru terjadi pada abad ke-13 dan menjadi kekuatan kebudayaan atau agama yang utama pada abad ke-15 dan 16 Masehi. Sebelumnya, terbatas antara pendatang yang beragama Islam dengan penduduk pribumi. Setelah abad ke-13  Masehi, aktivitas penyebaran Islam menjadi misi kerajaaan Islam nusantara yang sudah memeluk Islam. Yang dapat dijadikan bukti adalah temuan batu nisan di Sumatra, berasal dari Sultan Malik Syah ( meninggal pada tahun 1297 M). Batu nisan itu bertuliskan “Sultan Malik Syah “, yang membuktikan bahwa pada saat itu telah berdiri kerajaan Isalam. Temuan lain adalah batu nisan Sultan Malik Sahir, putra Sulta Malik Syah (meninggal tahun 1326 M) dan buyutnya, Ratu Mihrahsyah (meninggal tahun 1428 M).
Menurut catatan perjalanan Ibnu Battutah, seorang pengembara Arab, dalam perjalanan pulang dari Cina pada tahun 1347 M, ia singgah di Sumatra. Disana ia dijamu oleh seorang Raja yang beragama Islam, Sultan Malik Sahir, dengan sangat meriah.
Menurut Azyu mardi Azra ada tiga teori besar tentang asal Islam di Asia tenggara :
1.         Islam datang langsung dari Arab, tepatnya dari hadramut. Pendapat ini dianut oleh crawfurt (1820) Keyzer (1859), Niemann (1861) deHollender (1861),          Veth (1873).
2.         Islam datang melalui India. Teori ini pertama kali diajukan oleh Pijnapel (1872) yang menafsirkan catatan perjalanan Sulaeman, Marcopollo dan Ibnu Battuta. Ia menyimpulkan, yang membawa Islam di Asia tenggara adalah orang-orang Arab yang bermashab safi’i yang datang dari Gujarat dan Melabor, India. Pendapat ini diteruskan oleh Snouck Hurgronye dan Morisson (1961) dengan menunjuk tempat yang lebih pasti, yaitu pantai Koromandel sebagai pelabuhan tempat para pedagang muslim bertolak menuju Asia tenggara.
3.         Islam berasal dari Benggali (Bangladesh). Pendapat ini dianut oleh Fatimi.
Berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada tempat asal yang khusus mengingat sifat internasioanalisme Islam. Tempat asal itu bisa jadi gabungan dari Arab, Persia dan India, dan mungkin juga Cina.
Sebagaimana telah disebutkan, kontak antara penduduk pribumi dan Islam- teutama sejak abad-13- terjadi melalui kalangan saudagar. Sementara itu, penyebarannya dilakukan oleh para sufi yang mengikuti saudagar tersebut. Islam yang disebutkan oleh kaum sufi tersebut bercorak mistis, dan faktor ini turut mempercepat proses penyebarluasan Islam. Para penyebar Islam yang terkenal termasuk kaum sufi, seperti Hamzah Fansuri dan Samsudin dan Nurudin ar-Raniri pada abad ke 17. Di pulau Jawa, penyebaran Islam dilakukan ole para walisanga, yang juga adalah sufi.
Cara penduduk pribumi memeluk Islam ada dua:
1.         Penduduk pribumi berhubungan dengan para saudagar yang beragam Islam dan akhirnya mereka memeluk Islam.
2.         Penduduk asing yamg beragama Isalm memetap di pemukiman penduduk pribumi dan mengikuti gaya hidup masyarakat setempat. Mereka melakukan perkawinan campur dan mengislamkan pemukiman tersebut.
Dari kerajaan Pasai Aceh, Islam menyebar ke semenanjung Melayu dan menjadi agama resmi negara pada tahun 1403 M. Tahun 1414 Muhammad Iskandar Muda, yang mendirikan pelabuhan Malaka, memeluk Islam setelah menikah dengan seorang putri Sultan Persia. Setelah Malak jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, dua kerajaan, yaitu Lemuri dan Daat al-Kamal, berhasil dipersatukan. Banyak pedagang muslim menghindari Malaka dan memindahkan jalur perdagangannya ke pantai barat Sumatra, terus ke selat Sunda. Aceh berubah menjadi pelabuhan yang maju dan menggantikan peran samudra Pasai.
B.     Islamisasi Nusantara
Pada bagian ini akan dilihat, sejauh maakah proses penetrasi ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sosial penduduk nusantara. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat mengenai ukuran yang dipakai. Sebagian ahli melihat tingkat penetrasi tersebut dari kriteria minimal, yaitu pengucapan dua kalimat syahadat, penggunaan nama-nama muslim, penggunaan aksara Arab di batu nisan, atau pengambilan beberapa kata istilah dari “pusat” dunia Islam, seperti Timur Tengah dan Persia. Sebagian lagi mengukurnya secara sosoiologis, yaitu sejauh mana Islam dan perangkat institusinya berfungsi secara aktual dan menyeluruh di dalam masyarakat muslim setempat. Ukuran yang pertama dianggap kurang argumen karena bersifat nominal.
Islamisasi nusantara yang berwujud pembentukan tradisi tersendiri dapat ditelaah dari dua sudut : (1) sifat Islam yang universal dan mengajarkan persamaan dan kebebasan, serta sifat sufistik yang mampu mengakomodasi kepercayaan lama, dan (2) para penyebar Islam, baik para saudagar maupun di kalangan penduduk setempat. Hubungan antara keduanya sangat erat karena Islam sebagai ajaran universal mewajibkan penganutnya ikut menyebarkan ajaran ini kepada orang lain.
Islam di Indonesia berpangkal pada kota-kota pelabuhan lain di pesisir utara Jawa, kecuali untuk kerajaan Minangkabau di Sumatra Tengah kota pelabuhan tersebut, Islam merupakan fenomena istana. Istana menjadi sumber penegmbangan Islam sehingga melahirkan banyak intelektual Islam yang dilindungi oleh penguasa, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin, Nurruddin ar-Raini, dan Abdul Rauf Al-Sankili. Para intelektual ini memiliki hubungan keilmuan yang luas dengan negeri luar, yang dapat dilihat dari tarekat-tarekat tasawuf yang berkembang luas di nusantara.
Di kota-kota dibangun sekolah-sekolah, pusat pendidikan, dan sarana ibadah berupa masjid. Kota menjadi tempat pemberangkatan calon haji. Orang-orang pedalaman yang ingin mendalami agama pergi ke kota sehingga kota pun menjadi pusat Islam yang dinamis. Terjadi hubungan yang serasi antara istana, pedagang, dan juru dakwah. Di Jawa, perkembangan ini mulai bergeser setelah kerajaan Demak menggantikan Majapahit, dan kemudian Mataram. Istana berubah menjadi sebuah kubu yang berhadapan dengan pesantren.
Sifat mistik Islam terbuka. Ia menerima pengaruh adat, tradisi, dan kepercayaan-kepercayaan lam, dan inilah yang mempercepat proses Islaminasi, seperti pendapat Dr. Atho:
“Di samping sifat kebersamaan agam Islam yang telah menarik kaum pribumi yang dipengaruhi  oleh kebiasaan Hindu, sifat mistik agama Islam itulah yang telah membantu cepatnya penyebaran agama Islam di kepulauan Indonesia.”
Hal ini disebabkan oleh adanya pertemuan antara dua “tabularasa” yang tidak kontradiktif. Paling tidak , wajah Islam di tangan penyebarnya pada saat itu sangat akomodatif. Menurut Benda, kedatangan Islam tidak diawali dengan “tabularasa” keadaan batin yang kosong, yang membuat orang-orang dapat melanjutkan tata kehidupannya. Jejak-jejak berarti dari Budha Mahanaya dan Brahmanisme tidak hilang secara total dari kepercayaan keagamaan atau lembaga-lembaga sosial. Hal ini mugkin karena kedatangan “aliran jubah”, aliran sufi India di Indonesia.
Islamisasi di Asia tenggara, termasuk di dalamnya kepulauan nusantara melalui tiga tahap. Tahap pertama : kedatangan Islam yang diikuti oleh kemerosotan dan selanjutnya keruntuhan kerajaan Majapahit pada abad ke-14 dan 15 M. Pada tahap awal, penyebaran Islam terbatas di kota-kota pelabuhan, kemudian menyebar ke wilayah-wilayah pesisir lain, termasuk daerah pedesaan. Para penyebarnya terdiri atas para saudagar, ulama, dan murid-muridnya. Yang terakhir ini memperoleh perlindungan istan, bahkan banyak diantara mereka diangkat menjadi guru-guru tarekat di istana.
Sampai dengan akhir abad ke-17, Islam bersifat sufistis tetapi tidak mengabaikan syari’ah. Islam dengan corak demikian tampak cocok dengan latar belakang masyarakat setempat yang dipengaruhi oleh aksetisme Hindu-Budha dan sinkretisasi kepercayaan lokal. Islam tidak langsung diterima secara merata oleh lapisan terbawah masyarakat. Dalam berbagai kasus, pemeluk bersifat nominal. Kalau pun ada pemeluk Islam, maka terbatas pada kelompok-kelompok tertentu. Pada abad ke-18. Terutama di pedesaan, lembaga-lembaga Islam yang vital mulai mapan, seperti meunasah di Aceh, surau di Minangkabau, dan pesantren di Jawa.
Tahap kedua; lembaga pendidikan Islam ini mendorong intensifikasi islamisasi dalam masyarakat nusantara dan bersamaan dengan itu muncul pembaharuan pemahaman terhadap ajaran Islam “kembali kepada syariah”. Proses ini berlangsung terus-menerus dengan ditopang oleh berbagai faktor, termasuk kebijaksanaan pemerintah kolonial Belanda. Bahkan, penjajahan kolonial ikut menyaksikan kristalisasi renaisans Islam.
Tahap ketiga; identifikasi penjajah sebagai kafir membuka kesempatan kepada Islam untuk menjadi pemersatu masyarakat di dalam perjuangan melawan penindasan. Tindakan kekerasan dan pembatasan yang dilakukan oleh kolonialis mempercepat kristalisasi kehadiran Islam sebagai simbol perlawanan, panji-panji, dan “mekanisme pertahanan diri”
Proses penyebaran Islam terjadi lewat beberapa saluran,yaitu :
a.         Saluran perdagangan; pada awalnya, islamisasi terjadi melalui kontak para pedagang dengan pribumi. Pemukiman muslim yang mendirikan di pesisir pantai cepat berkembang karena tingkat ekonomi mereka rata-rata bertambah baik dengan ikut sertanya golongan bangsawan dalam perdagangan tersebut.
b.         Saluran perkawinan; ketika jumlah umat Islam semakin banyak sementara penghasilan mereka relatif tinggi, banyak di antara putri pribumi dari keluarga bangsawan maupun masyarakat biasa merasa tertarik dan ingin menikah dengan mereka. Sebelum menikah, para wanita ini diislamkan. Dalam perkembangannya, wanita-wanita muslim pun menikah dengan kaum pribumi, dan lain sebagainya.
c.         Saluran tasawuf; para penyebar Islam, yaitu sufi, mengajarkan ajaran-ajaran Islam dengan melakukan “adaptasi” dengan kepercayaan yang sudah  dikenal luas masyarakat. Dengan demikian, Islam mudah dimengerti dan dipahami.
d.        Saluran pendidikan; berdirinya lembaga-lembaga pendidikan mempercepat islamisasi. Di sinilah calon-calon ulama dididik. Setelah menyelesaikan pelajarannya, mereka kembali ke desanya untuk mendirikan pesantren, merantau untuk menyebarkan Islam, atau menjadi juru dakwah.
e.         Saluran kesenian; misalnya melalui pertunjukan wayang di Jawa. Contohnya, Sunan Kalijaga adalah seorang dalang yang terkenal. Ia mementaskan cerita-cerita Mahabharata dan Ramayana dengan menyelipkan pesan-pesan Islam.
f.          Saluran politik; melalui lembaga kerajaan, Islama meluas ke tengah masyarakat, seperti di Maluku dan Sulawesi Selatan. Setelah raja memeluk agama Islam, masyarakat mengikuti jejaknya. Untuk mengukuhkan kekuasaanya, kerajaan-kerajaan Islam yang baru berdiri memperluas wilayahnya dengan menakhlukan daerah-daerah lain. Pada umumnya, daerah-daerah taklukan ini diislamkan.

 Semoga Materi kedatangan islam di indonesia di atas bermanfaat untuk sahabat sharematika semua. terimakasih atas kunjungannya, kunjungi terus sharematika, blog yang membahas semua materi matematika sd, materi matematika smp, materi matematika sma, dan materi matematika perguruan tinggi.

0 comments:

Post a Comment

Jika ada yang ditanyakan mengenai materi matematika SD,SMP maupun SMA bisa ditanyakan disini dengan cara mengetikan pertanyaan anda dibawah ini, dan Silahkan berkomentar apapun dengan kalimat yang sopan dan bahasa yang baku. :)